Arsip Kategori: Puisi Pengalaman
Cerita Bibir Berempat
Jalang menandakan dirinya disetiap kaca terucap
Melayang kepala menyentuh apa yang digambar bibir
tiga wanita – satu pria
Barat dan timur disentuh kasar mulut mereka
Juga beriring ruang kosong kepala
Batu kuning yang mengering disambil kebusukan angin
Pucat keadaan diterjang tawa binatang
Penghabisanku Untuk Kumpul Semu
Dan semua mulai bisa kulepas
Berpaling baik aku mulai menghempas.
Semua cuma lukisan tua berwarna
Masih ada untuk sisa,
Tapi tak lama lagi aku hanya berada
Dua kata itu tertanam esok-lusa
“Sampai Jumpa………”
Itu Nanti
Mengikis umur cepat bergerak tak bentur
Hampa gelap selama bersama
Dakian tak terbatas dengan sejuta jiwa
-segelintir raga-
Mungkinkah merayapi malam menjadi sumbu
Api nyala mentari?
Juga badai pemimpin diri menjadi hantu
Kian beri arti sejati?
Sakit dan segala lelah : saudara perjalanan
Baru dan sama bukanlah bosan
Berkeringat semua memanas
Masa depan menjadi emas!!
Bila Kurang Paham
Bukanlah aku tidak dibenci
Mengheran-menyebalkan datang hanya seorang
Buta perasaan kawan
Lampias juga beda dari dunia
Mengangkasa aku, hanya padaku
Esok bersiap, hari ini ketika heran
Penjelasan hanya tatap langsung mataku
Mendengar yang bisu ini berseru
Tapi cuma berdua saja
Tiada lain dari ketulusan ini, tapi
Terbang lain arah, angin lain warna
Melihatmu juga tanpa mata
Aku inilah aku :
Jalanku, hidupku,
D
Meradang semangat melihatmu
yang resah dan putus cahya
Bergulat dalam ombak hampa rasa
Terpandang menendang tinggal rangka
dan bicara untuk ingin
ditinggalkan yang sebagian akan
dewata bersumpah, kalian lupa bisa jaya
***
Gelap meninggi tumbuh kembang daun
Kami berhimpit sunyi sama sisa kerlip
Sembarang ada merebah dan berjalan
Aku duduk diam tak pasti
Meragu laku yang sedang apa ini.
Sedang gelap dalam kantuk lagi kembali
***
Baru lagi………
Ada sama pada angin yang menggerak
dan berpijar sama pada ruangan gelap
Kita bertemu disingkat kotor ini
Semoga kenang tidak mengalun, lalu pergi
***
Kepada pengamen kecil
Segala nampak buruk bukan salahmu
Terwujud dalam nanah membabtis luka jiwa
Kurang dunia, satu lagi bicara
Depanku kau diperhitam
Bukan jua salahmu dalam benci pria itu.
Tersungkur sambil menyurat suci,
dirimu berlalu, lalu pergi…
***
Dan tajam suara ‘malam itu nyata
Rangka bercanda akan dusta
Terbawa nanti dan mungkin
tujuh darah lagi
***
Biar langit bicara pada nasib yang mengantar,
atau kita cuma ‘nunggu untuk mati dalam malu!
Suara Kenang Detik Barusan
Selimut kaki yang terpakai kembali
Membawa kejalan lurus terang
Besar menjadi, bijak aku diterangi
Kau disimpan terpajang tinggal kenang
Aroma bekas berjalan masih tercium berlaku
Tidak ‘kan hilang dan jauh terbuang
Bunga maaf salah mengguna dan kasih kembali
Kuselip dalam arsip seribu panjang umurmu
Puisi diukir penyair
Penyair sebagai aku dulu merenang syair
Sajak Hampa
Kecup senja darah itu dan larikan kepada malm
Aku biar membangkai iba yang ‘nengadah rupa
Sampai tiba lampias hantu yang menempik
Dan lupa memperangka hilang segala jiwa
Menumpas berantang organ yang mengambang
Hempaskan saja malam dan warnai langit,
menjadi pagi
Papan-papan kehidupan lantang menjulang
Terpekur dalam dada segala segan-heran dan hampa aku merasa
Aku sayapkan pikirku bersarang pada rasa kaku.
Menumpat……………………
Menunggu Yang Dibilang Bayang
Alam keberapa ini memang berduri
Lupa suara dan yang telah jadi
Di tambah bertumpuk segala rasa ada
dengan jiwa sebagian kemana?
Tumbuh seluruh gelisah
Bertarik nafas seolah lelah
Ramai nanti menjinjing hati
Segala mata dan mulut bersuara
Menembak jiwa yang tertinggal dari gerak raga
Untuk lalu kembali, sudah percuma
Caya dan Dua Wanita
Dunia jauh mengabur
dimalam yang hilang batas
Juga mukaku tidak sama biasa
Hilang topeng dan dua wanita
yang mengikut itu terus bicara
Aku minta caya pada malam
Untuk menulis sajak ini dalam diam
0 comments:
Post a Comment